Jumat, 10 Juni 2016

Remaja dan Kesulitan Komunikasi (Berbahasa) yang Dialaminya



BAB I
PENDAHULUAN
       Remaja dikenal dengan istilah “adolescence” atau remaja berasal dari kata Latin  adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” (Hurlock, 1999). Remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa ini remaja mengalami berbagai perubahan. Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik yang disertai dengan berkembangnya kapasitas reproduktif, perubahan-perubahan fisik yang terjadi merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Sementara itu perubahan-perubahan psikologis muncul antara lain sebagai akibat dari perubahan-perubahan fisik. Diantara perubahan-perubahan fisik itu, yang besar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi). Selanjutnya, mulai berfungsi alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh, yakni pada laki-laki misalnya dari kumis, suara yang berat, jakun, otot-otot yang kuat, dan lain-lain. Sedangkan pada wanita mengenalinya dari panggul yang besar, payudara, suara yang lembut, dan lain-lain (Sarwono, 2007).
                 Perubahan fisik pada remaja salah satunya adalah tumbuhnya tanda-tanda seksual sekunder yakni, perubahan suara yang erat kaitannya dengan perkembangan bahasa. Perkembangan bahasa pada masa remaja meliputi peningkatan penguasaan dalam penggunaan kata-kata yang kompleks (Fischer & Lazerson, dalam Santrock, 2007). Menurut Santrock (2007) remaja juga mengembangkan kemampuan yang lebih tajam terkait kata-kata. Mereka membuat kemajuan dalam memahami metafora, yakni perbandingan makna antara dua hal yang berbeda. Selain itu, para remaja menjadi lebih mampu memahami dan menggunakan satire, yakni penggunaan ironi, cemoohan, atau lelucon untuk mengekspos kebodohan atau kekejian.
                   Penggunaan bahasa ini sangat penting dalam proses perkembangan remaja sebagai identitas independensi mereka dari dunia anak-anak menuju dewasa. Menurut Erikson (dalam Sarwono, 2007) remaja memasuki tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role confusion. Hal yang dominan terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan pembentukan identitas. Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki identitas sendiri yang terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa. Pada usia 12-18 tahun, anak-anak dilatih untuk mengerti prinsip-prinsip kausalitas (hubungan sebab-akibat) melalui pelajaran tata bahasa, ilmu alam, matematika, etika, dialektika, dan retorika. (Muss dalam Sarwono, 2007). Hal ini semua untuk menunjang pembentukan identitas independensi bagi remaja.
                   Dalam pengertian umum mengenai bahasa dianggap sebagai alat komunikasi. Alat yang digunakan oleh seseorang untuk berhubungan dengan orang lain. Bahasa dan komunikasi adalah dua aspek perkembangan yang berperan penting dalam kehidupan manusia, tanpa kemampuan ini sulit bagi manusia untuk berinteraksi satu sama lain. Bahasa dan komunikasai merupakan sebentuk uang logam yang memiliki dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kode sosial yang memiliki sistem yang digunakan dalam berkomunikasi.
                   Selanjutnya, komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses yang terjadi pada waktu berinteraksi dengan orang lain. Komunikasi merupakan faktor penting dalam proses perkembangan dan proses belajar. Anak, remaja atau orang dewasa yang mengalami kesulitan berkomunikasi mengalami kesukaran dalam mempresepsikan diri mereka, memahami orang lain dan membangun hubungan interpersonal. Hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam satu atau lebih dalam bidang-bidang yang berkaitan dengan memahami dan menentukan serta memilih kata yang tepat (word producting), mendiskriminasikan dan mengurutkan bunyi bahasa sesuai dengan peraturannya, seperti bagaimana membentuk kata dan kalimat bermakna dalam berbagai konteks sosial.
                   Hasil penelitian yang dilakukan I CAN (dalam Jamaris, 2014) menunjukkan bahwa satu dari sepuluh anak mengalami kesulitan bahasa yang berdampak pada kesulitan komunikasi dan remaja yang berkesulitan ini akan menyembunyikan kekurangannya. Oleh sebab itu, tanpa bantuan yang tepat atau sesuai sasaran anak-anak yang mengalami kesulitan komunikasi akan tertinggal jauh di belakang perkembangan yang seharusnya mereka miliki (Jamaris, 2014).
          Kesulitan bahasa dapat didefinisikan sebagai gangguan atau kesulitan yang dialami seseorang dalam memperoleh kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis, yang mencakup penguasaan tentang bentuk, isi serta penggunaan bahasa. Gangguan ini mungkin disebabkan oleh sistem syaraf pusat atau oleh faktor lain yang berpengaruh secara tidak langsung (Wardani, 1995). Kesulitan-kesulitan berbahasa, misalnya: (1) kesulitan dalam menyampaikan pikiran dalam bentuk bahasa lisan, (2) kesulitan dalam membedakan kata-kata sapaan, (3) kesulitan dalam menuliskan apa yang diinginkannya secara tepat, (5) kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan guru, (6) kesulitan berbicara sekaligus kesulitan dalam bentuk dan penggunaan bahasa.
          Dalam Buku DSM IV Psikologi, kesulitan komunikasi dikelompokkan dalam lima ganguan bahasa yakni, gangguan bahasa ekspresif, gangguan bahasa reseptif-ekspresif campuran, gangguan bahasa fenologis, gagap dan gangguan komunikasi tidak dispesifikaikan sebelumnya.
          Bagi remaja yang memasuki jenjang pendidikan di sekolah maupun di luar sekolah, kesulitan dalam komunikasi dapat menjadi penyebab kesulitan dalam belajar yang akan mengganggu prestasi akademik remaja dalam jejang pendidikan yang dijalaninya, di mana secara umum anak yang mengalami kesulitan dalam bahasa tidak berbicara seperti anak-anak sebayanya dan tidak dapat merespon secara tepat terhadap berbagai pernyataan verbal, seperti sapaan, perintah, permintaan dan lain-lain (Jamaris, 2014).
       Selain itu, kesulitan komunikasi juga dapat berpengaruh pada konsep diri remaja. Konsep diri merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri, dimana persepsi ini dibentuk melalui pengalaman dan interpretasi seseorang terhadap dirinya sendiri (Shavelson, dkk., 1976). Marsh (1990) menambahkan bahwasanya konsep diri merupakan nilai dari hasil proses pembelajaran yang dilakukan dan dari hasil situasi psikologis yang diterima dari lingkungannya.
Peran orang tua dan pendidik sangat dibutuhkan dalam menanggulangi atau mengurangi dampak-dampak atau akibat dari kesulitan komunikasi yang dialami oleh remaja. Karena peran orang tua dan pendidik di rumah maupun di sekolah merupakan contoh bagi remaja dalam menyikapi kehidupan. Di mana bagi remaja yang mengalami kesulitan berkomunikasi mampu menyikapi dengan baik dan efektif kekurangan yang ada dalam dirinya. Sehingga, dapat membentuk remaja yang percaya diri, mampu berfikir positif dan kreatif dalam menyikapi kekurangan dalam dirinya.
Dalam buku ini, penulis mencoba menguraikan mengenai perkembangan bahasa, penyebab-penyebab kesulitan komunikasi, dampak dan cara penanggulangannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar