BAB I
PENDAHULUAN
Remaja dikenal dengan istilah “adolescence” atau remaja berasal dari
kata Latin adolescere (kata bendanya, adolescentia
yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” (Hurlock, 1999). Remaja
merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa.
Pada masa ini remaja mengalami berbagai perubahan. Perubahan yang
tampak jelas adalah perubahan fisik yang disertai dengan berkembangnya
kapasitas reproduktif, perubahan-perubahan fisik yang terjadi
merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Sementara itu
perubahan-perubahan psikologis muncul antara lain sebagai akibat dari
perubahan-perubahan fisik. Diantara perubahan-perubahan fisik itu, yang besar
pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan
menjadi semakin panjang dan tinggi). Selanjutnya, mulai berfungsi alat-alat
reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki)
dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh, yakni pada laki-laki misalnya
dari kumis, suara yang berat, jakun, otot-otot yang kuat, dan lain-lain.
Sedangkan pada wanita mengenalinya dari panggul yang besar, payudara, suara yang
lembut, dan lain-lain (Sarwono, 2007).
Perubahan fisik pada remaja salah satunya
adalah tumbuhnya tanda-tanda seksual sekunder yakni, perubahan suara yang erat
kaitannya dengan perkembangan bahasa. Perkembangan bahasa pada masa remaja
meliputi peningkatan penguasaan dalam penggunaan kata-kata yang kompleks
(Fischer & Lazerson, dalam Santrock, 2007). Menurut Santrock (2007) remaja
juga mengembangkan kemampuan yang lebih tajam terkait kata-kata. Mereka membuat
kemajuan dalam memahami metafora, yakni perbandingan makna antara dua hal yang
berbeda. Selain itu, para remaja menjadi lebih mampu memahami dan menggunakan satire, yakni penggunaan ironi,
cemoohan, atau lelucon untuk mengekspos kebodohan atau kekejian.
Penggunaan
bahasa ini sangat penting dalam proses perkembangan remaja sebagai identitas
independensi mereka dari dunia anak-anak menuju dewasa. Menurut Erikson (dalam
Sarwono, 2007) remaja memasuki tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role confusion. Hal yang
dominan terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan pembentukan identitas.
Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki identitas sendiri yang
terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa. Pada usia 12-18 tahun, anak-anak
dilatih untuk mengerti prinsip-prinsip kausalitas (hubungan sebab-akibat)
melalui pelajaran tata bahasa, ilmu alam, matematika, etika, dialektika, dan
retorika. (Muss dalam Sarwono, 2007). Hal ini semua untuk menunjang pembentukan
identitas independensi bagi remaja.
Dalam pengertian umum mengenai bahasa dianggap
sebagai alat komunikasi. Alat yang digunakan oleh seseorang untuk berhubungan
dengan orang lain. Bahasa dan komunikasi adalah dua aspek perkembangan yang
berperan penting dalam kehidupan manusia, tanpa kemampuan ini sulit bagi
manusia untuk berinteraksi satu sama lain. Bahasa dan komunikasai merupakan
sebentuk uang logam yang memiliki dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu
sama lain. Bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kode sosial yang
memiliki sistem yang digunakan dalam berkomunikasi.
Selanjutnya, komunikasi dapat diartikan sebagai
suatu proses yang terjadi pada waktu berinteraksi dengan orang lain. Komunikasi
merupakan faktor penting dalam proses perkembangan dan proses belajar. Anak,
remaja atau orang dewasa yang mengalami kesulitan berkomunikasi mengalami
kesukaran dalam mempresepsikan diri mereka, memahami orang lain dan membangun
hubungan interpersonal. Hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam satu atau lebih
dalam bidang-bidang yang berkaitan dengan memahami dan menentukan serta memilih
kata yang tepat (word producting),
mendiskriminasikan dan mengurutkan bunyi bahasa sesuai dengan peraturannya,
seperti bagaimana membentuk kata dan kalimat bermakna dalam berbagai konteks
sosial.
Hasil penelitian yang dilakukan I CAN (dalam
Jamaris, 2014) menunjukkan bahwa satu dari sepuluh anak mengalami kesulitan
bahasa yang berdampak pada kesulitan komunikasi dan remaja yang berkesulitan ini
akan menyembunyikan kekurangannya. Oleh sebab itu, tanpa bantuan yang tepat
atau sesuai sasaran anak-anak yang mengalami kesulitan komunikasi akan
tertinggal jauh di belakang perkembangan yang seharusnya mereka miliki (Jamaris,
2014).
Kesulitan
bahasa dapat didefinisikan sebagai gangguan atau kesulitan yang dialami
seseorang dalam memperoleh kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis,
yang mencakup penguasaan tentang bentuk, isi serta penggunaan bahasa. Gangguan
ini mungkin disebabkan oleh sistem syaraf pusat atau oleh faktor lain yang
berpengaruh secara tidak langsung (Wardani, 1995). Kesulitan-kesulitan
berbahasa, misalnya: (1) kesulitan dalam menyampaikan pikiran dalam bentuk
bahasa lisan, (2) kesulitan dalam membedakan kata-kata sapaan, (3) kesulitan
dalam menuliskan apa yang diinginkannya secara tepat, (5) kesulitan menjawab
pertanyaan-pertanyaan guru, (6) kesulitan berbicara sekaligus kesulitan dalam
bentuk dan penggunaan bahasa.
Dalam
Buku DSM IV Psikologi, kesulitan komunikasi dikelompokkan dalam lima ganguan
bahasa yakni, gangguan bahasa ekspresif, gangguan bahasa reseptif-ekspresif
campuran, gangguan bahasa fenologis, gagap dan gangguan komunikasi tidak
dispesifikaikan sebelumnya.
Bagi
remaja yang memasuki jenjang pendidikan di sekolah maupun di luar sekolah, kesulitan
dalam komunikasi dapat menjadi penyebab kesulitan dalam belajar yang akan
mengganggu prestasi akademik remaja dalam jejang pendidikan yang dijalaninya,
di mana secara umum anak yang mengalami kesulitan dalam bahasa tidak berbicara
seperti anak-anak sebayanya dan tidak dapat merespon secara tepat terhadap berbagai
pernyataan verbal, seperti sapaan, perintah, permintaan dan lain-lain (Jamaris,
2014).
Selain itu, kesulitan komunikasi juga
dapat berpengaruh pada konsep diri remaja. Konsep diri merupakan persepsi seseorang
terhadap dirinya sendiri, dimana persepsi ini dibentuk melalui pengalaman dan
interpretasi seseorang terhadap dirinya sendiri (Shavelson, dkk., 1976). Marsh
(1990) menambahkan bahwasanya konsep diri merupakan nilai dari hasil proses
pembelajaran yang dilakukan dan dari hasil situasi psikologis yang diterima
dari lingkungannya.
Peran
orang tua dan pendidik sangat dibutuhkan dalam menanggulangi atau mengurangi
dampak-dampak atau akibat dari kesulitan komunikasi yang dialami oleh remaja.
Karena peran orang tua dan pendidik di rumah maupun di sekolah merupakan contoh
bagi remaja dalam menyikapi kehidupan. Di mana bagi remaja yang mengalami
kesulitan berkomunikasi mampu menyikapi dengan baik dan efektif kekurangan yang
ada dalam dirinya. Sehingga, dapat membentuk remaja yang percaya diri, mampu
berfikir positif dan kreatif dalam menyikapi kekurangan dalam dirinya.
Dalam
buku ini, penulis mencoba menguraikan mengenai perkembangan bahasa,
penyebab-penyebab kesulitan komunikasi, dampak dan cara penanggulangannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar