Jumat, 10 Juni 2016

Remaja dan Kesulitan Komunikasi (Berbahasa) yang Dialaminya




BAB I
       Remaja dikenal dengan istilah “adolescence” atau remaja berasal dari kata Latin  adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” (Hurlock, 1999). Remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa ini remaja mengalami berbagai perubahan. Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik yang disertai dengan berkembangnya kapasitas reproduktif, perubahan-perubahan fisik yang terjadi merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Sementara itu perubahan-perubahan psikologis muncul antara lain sebagai akibat dari perubahan-perubahan fisik. Diantara perubahan-perubahan fisik itu, yang besar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi). Selanjutnya, mulai berfungsi alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh, yakni pada laki-laki misalnya dari kumis, suara yang berat, jakun, otot-otot yang kuat, dan lain-lain. Sedangkan pada wanita mengenalinya dari panggul yang besar, payudara, suara yang lembut, dan lain-lain (Sarwono, 2007).
                 Perubahan fisik pada remaja salah satunya adalah tumbuhnya tanda-tanda seksual sekunder yakni, perubahan suara yang erat kaitannya dengan perkembangan bahasa. Perkembangan bahasa pada masa remaja meliputi peningkatan penguasaan dalam penggunaan kata-kata yang kompleks (Fischer & Lazerson, dalam Santrock, 2007). Menurut Santrock (2007) remaja juga mengembangkan kemampuan yang lebih tajam terkait kata-kata. Mereka membuat kemajuan dalam memahami metafora, yakni perbandingan makna antara dua hal yang berbeda. Selain itu, para remaja menjadi lebih mampu memahami dan menggunakan satire, yakni penggunaan ironi, cemoohan, atau lelucon untuk mengekspos kebodohan atau kekejian.
                   Penggunaan bahasa ini sangat penting dalam proses perkembangan remaja sebagai identitas independensi mereka dari dunia anak-anak menuju dewasa. Menurut Erikson (dalam Sarwono, 2007) remaja memasuki tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role confusion. Hal yang dominan terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan pembentukan identitas. Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki identitas sendiri yang terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa. Pada usia 12-18 tahun, anak-anak dilatih untuk mengerti prinsip-prinsip kausalitas (hubungan sebab-akibat) melalui pelajaran tata bahasa, ilmu alam, matematika, etika, dialektika, dan retorika. (Muss dalam Sarwono, 2007). Hal ini semua untuk menunjang pembentukan identitas independensi bagi remaja.
                   Dalam pengertian umum mengenai bahasa dianggap sebagai alat komunikasi. Alat yang digunakan oleh seseorang untuk berhubungan dengan orang lain. Bahasa dan komunikasi adalah dua aspek perkembangan yang berperan penting dalam kehidupan manusia, tanpa kemampuan ini sulit bagi manusia untuk berinteraksi satu sama lain. Bahasa dan komunikasai merupakan sebentuk uang logam yang memiliki dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kode sosial yang memiliki sistem yang digunakan dalam berkomunikasi.
                   Selanjutnya, komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses yang terjadi pada waktu berinteraksi dengan orang lain. Komunikasi merupakan faktor penting dalam proses perkembangan dan proses belajar. Anak, remaja atau orang dewasa yang mengalami kesulitan berkomunikasi mengalami kesukaran dalam mempresepsikan diri mereka, memahami orang lain dan membangun hubungan interpersonal. Hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam satu atau lebih dalam bidang-bidang yang berkaitan dengan memahami dan menentukan serta memilih kata yang tepat (word producting), mendiskriminasikan dan mengurutkan bunyi bahasa sesuai dengan peraturannya, seperti bagaimana membentuk kata dan kalimat bermakna dalam berbagai konteks sosial.
                   Hasil penelitian yang dilakukan I CAN (dalam Jamaris, 2014) menunjukkan bahwa satu dari sepuluh anak mengalami kesulitan bahasa yang berdampak pada kesulitan komunikasi dan remaja yang berkesulitan ini akan menyembunyikan kekurangannya. Oleh sebab itu, tanpa bantuan yang tepat atau sesuai sasaran anak-anak yang mengalami kesulitan komunikasi akan tertinggal jauh di belakang perkembangan yang seharusnya mereka miliki (Jamaris, 2014).
          Kesulitan bahasa dapat didefinisikan sebagai gangguan atau kesulitan yang dialami seseorang dalam memperoleh kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis, yang mencakup penguasaan tentang bentuk, isi serta penggunaan bahasa. Gangguan ini mungkin disebabkan oleh sistem syaraf pusat atau oleh faktor lain yang berpengaruh secara tidak langsung (Wardani, 1995). Kesulitan-kesulitan berbahasa, misalnya: (1) kesulitan dalam menyampaikan pikiran dalam bentuk bahasa lisan, (2) kesulitan dalam membedakan kata-kata sapaan, (3) kesulitan dalam menuliskan apa yang dIIInginkannya secara tepat, (5) kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan guru, (6) kesulitan berbicara sekaligus kesulitan dalam bentuk dan penggunaan bahasa.
          Dalam Buku DSM IV Psikologi, kesulitan komunikasi dikelompokkan dalam lima ganguan bahasa yakni, gangguan bahasa ekspresif, gangguan bahasa reseptif-ekspresif campuran, gangguan bahasa fenologis, gagap dan gangguan komunikasi tidak dispesifikaikan sebelumnya.
          Bagi remaja yang memasuki jenjang pendidikan di sekolah maupun di luar sekolah, kesulitan dalam komunikasi dapat menjadi penyebab kesulitan dalam belajar yang akan mengganggu prestasi akademik remaja dalam jejang pendidikan yang dijalaninya, di mana secara umum anak yang mengalami kesulitan dalam bahasa tidak berbicara seperti anak-anak sebayanya dan tidak dapat merespon secara tepat terhadap berbagai pernyataan verbal, seperti sapaan, perintah, permintaan dan lain-lain (Jamaris, 2014).
       Selain itu, kesulitan komunikasi juga dapat berpengaruh pada konsep diri remaja. Konsep diri merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri, dimana persepsi ini dibentuk melalui pengalaman dan interpretasi seseorang terhadap dirinya sendiri (Shavelson, dkk., 1976). Marsh (1990) menambahkan bahwasanya konsep diri merupakan nilai dari hasil proses pembelajaran yang dilakukan dan dari hasil situasi psikologis yang diterima dari lingkungannya.
Peran orang tua dan pendidik sangat dibutuhkan dalam menanggulangi atau mengurangi dampak-dampak atau akibat dari kesulitan komunikasi yang dialami oleh remaja. Karena peran orang tua dan pendidik di rumah maupun di sekolah merupakan contoh bagi remaja dalam menyikapi kehidupan. Di mana bagi remaja yang mengalami kesulitan berkomunikasi mampu menyikapi dengan baik dan efektif kekurangan yang ada dalam dirinya. Sehingga, dapat membentuk remaja yang percaya diri, mampu berfikir positif dan kreatif dalam menyikapi kekurangan dalam dirinya.
Dalam hal ini, saya mencoba menguraikan mengenai Siapa yang dikatakan sebagai remaja itu?, Apa itu kesulitan komunikasi (bahasa)?, Apa saja penyebab-penyebab kesulitan komunikasi itu?, Bagaimana dampaknya bagi seorang remaja? dan  Bagaimana cara penanggulangannya?. Semoga Bermanfaat ya Sobat.

BAB II
I. Siapa sih Remaja itu?
       Remaja dikenal dengan istilah “adolescence” atau remaja berasal dari kata Latin  adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” (Hurlock, 1999). Pada tahun 1974, World Health Organization  (WHO) memberikan pengertian tentang remaja yang lebih bersifat konseptual. Dalam pengertian tersebut dikemukakan tiga kriteria, yaitu biologis, psikologis dan sosial ekonomi. Maka, secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut. Remaja adalah suatu masa ketika: (a) individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual; (b) individu mengalami perkembangan secara psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa; (c) terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (Sarwono, 2007).
                Menurut Hurlock (2002) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock (2002) karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa  dewasa. Transisi  perkembangan  pada  masa  remaja berarti sebagian perkembangan pada masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah sampai.

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pengertian remaja adalah tumbuh menjadi dewasa dan bersifat konseptual yaitu biologis, psikologis dan sosial ekonomi. Masa remaja memiliki batasan-batasan, yakni masa remaja awal yang dimulai kira-kira usia 13-17 tahun dan masa remaja akhir dimulai kira-kira dari usia 16-20 tahun.
 
BAB III
III. Apa itu Kesulitan Komunikasi (Bahasa)?
III.1. Pengertian Kesulitan Komunikasi (Bahasa)
       Dalam memahami pengertian kesulitan komunikasi terlebih dahulu memahami pengertian dari bahasa. Banyak batasan yang diberikan tentang bahasa. Dalam pengertian umum, bahasa dianggap sebagai alat komunikasi. Alat yang digunakan oleh seseorang untuk berhubungan dengan orang lain. American Speech and Hearing Association (ASHA) mendefinisikan bahasa sebagai :
 “ a complex and dynamic system of conventional symbols that is used in various modes for thought and communication” (Owen, 1984).
        Ini menunjukkan bahwa bahasa sebagai sistem simbol kompensional yang kompleks dan dinamis, yang digunakan dalam berbagai cara untuk menyampaikan pikiran dan komunikasi. Apabila definisi tersebut di terima, maka semua simbol yang bersistem, kompleks dan dinamis dapat di anggap sebagai bahasa.
       Bahasa memiliki beberapa aspek, dilihat dari segi keterampilan berbahasa, aspek-aspek tersebut meliputi mendengar (menyimak), berbicara, menulis dan membaca. Menurut Tarigan disebut sebagai catur tunggal, tetapi dilihat dari dari sudut pandang lain, Brown membagi bahasa ke dalam komponen-komponen bentuk, isi, dan penggunaan (Owen, 1984). Berdasarkan dari aspek dan komponen-komponen bahasa, kesulitan bahasa dapat didefinisikan sebagai gangguan atau kesulitan yang dialami seseorang dalam memperoleh kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis, yang mencakup penguasaan tentang bentuk, isi serta penggunaan bahasa.
       Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian dari kesulitan bahasa adalah gangguan atau kesulitan yang dialami seseorang dalam memperoleh kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis, yang mencakup penguasaan tentang bentuk, isi serta penggunaan bahasa. 

III.2. Penggologan Kesulitan Komunikasi (Bahasa)
                   Dalam kriteria DSM IV Psikologi, kesulitan bahasa dimasukkan dalam klasifikasi kesulitan komunikasi dan dikelompokkan dalam lima kesulitan bahasa, yakni:
 1.Gangguan bahasa ekspresif (Expressive language disorders).
 a.Skor diperoleh dari pengukuran teradministrasi terstandarisasi secara individual dari  perkembangan bahasa ekspresif secara substansial di bawah dari yang diperoleh dari ukuran standar dari kedua kapasitas intelektual nonverbal dan perkembangan bahasa reseptif. Gangguan ini mungkin secara klinis dimanifestasikan dengan gejala yang termasuk memiliki kosakata terbatas yang jelas, membuat kesalahan dalam ketegangan, atau mengalami kesulitan mengingat kata-kata atau kalimat memproduksi dengan panjang sesuai dengan tahapan perkembangan atau kompleksitas.
 b.Kesulitan dalam bahasa ekspresif mengganggu prestasi akademis atau pekerjaan atau dengan komunikasi sosial.
 c.Kriteria tidak terpenuhi untuk campuran gangguan bahasa reseptif-ekspresif atau gangguan perkembangan pervasif
 d.Jika keterbelakangan mental, speech-motor atau defisit sensorik, atau deprivasi lingkungan hadir, kesulitan bahasa yang lebih dari yang biasanya terkait dengan masalah ini.
           Catatan koding jika speech-motor atau defisit sensorik atau kondisi neurologis hadir, kode kondisi pada Axis IIII.
2.Gangguan bahasa reseptif-ekspresif campuran (Mixed receptive-expressive language disorder).
a.   Skor ini diperoleh dari pengukuran baterai teradministrasi terstandard secara individual atau perkembangan bahasa reseptif dan ekspresif secara substansial di bawah yang diperoleh dari mengukur standar kapasitas intelektual nonverbal. Gejala termasuk pada gangguan mengekspresikan bahasa serta kesulitan memahami kata-kata, kalimat, atau tipe tertentu dari kata-kata, seperti istilah spasial.
b.  Kesulitan dalam bahasa reseptif dan ekspresif secara signifikan mengganggu prestasi akademis atau pekerjaan atau dengan komunikasi sosial.
c.    Kriteria tidak terpenuhi untuk gangguan perkembangan pervasif.
d.   Jika keterbelakangan mental, speech-motor atau defisit sensorik, atau deprivasi lingkungan hadir, kesulitan bahasa yang lebih dari yang biasanya terkait dengan masalah ini.
           Catatan koding jika speech-motor atau defisit sensorik atau kondisi neurologis hadir, kode kondisi pada Axis IIII.
3.Gangguan fonologis (gangguan perkembangan artikulasi sebelumnya).
 a.Kegagalan untuk menggunakan suara berbicara yang diharapkan secara berkembang yang sesuai untuk usia dan dialek (misalnya, kesalahan dalam produksi suara, penggunaan, representasi, atau organisasi, namun tidak terbatas pada, substitusi satu suara untuk yang lain (penggunaan / t / target / k / suara) atau kelalaian suara seperti konsonan akhir).
 b.Kesulitan produksi suara dalam berbicara mengganggu prestasi akademis atau pekerjaan atau dengan komunikasi sosial.
 c.Jika keterbelakangan mental, speech-motor atau defisit sensorik atau deprivasi lingkungan hadir, kesulitan berbicara lebih dari yang biasanya berhubungan dengan masalah ini.
           Catatan koding dari speech-motor atau defisit sensorik atau kondisi neurologis hadir, kode kondisi pada Axis IIII.
4.Gagap (Suttering).
 a.Gangguan dalam kelancaran normal dan waktu pola bicara (yang tidak pantas untuk usia individu), yang ditandai dengan sering terjadi satu atau lebih hal-hal berikut:     
  1.      Pengulangan suara dan suku kata 
  2.      Perpanjangan Suara
  3.      Kata seru
  4.      Kata patah (misalnya, berhenti dalam kata-kata)
  5.      Pemblokiran suara atau diam (dIIIsi atau jeda terisi dalam berbicara)  
  6.      Perkataan panjang (substitusi kata untuk menghindari kata-kata yang bermasalah)
  7.      Kata-kata yang dihasilkan dengan kelebihan ketegangan fisik
  8.      Pengulangan seluruh-kata monosilabis (misalnya, "a-a-a-ku melihat dia")
 b.Gangguan dalam kelancaran dapat mengganggu prestasi akademis atau pekerjaan atau dengan komunikasi sosial.
 c.Jika keterbelakangan mental, speech-motor atau defisit sensorik atau deprivasi lingkungan hadir, kesulitan berbicara lebih dari yang biasanya berhubungan dengan masalah ini.
            Catatan koding dari speech-motor atau defisit sensorik atau kondisi neurologis hadir, kode kondisi pada Axis IIII.
5    Gangguan komunikasi tidak dispesifikasikan sebaliknya.
Kategori ini adalah untuk gangguan dalam komunikasi yang tidak memenuhi kriteria untuk setiap gangguan komunikasi tertentu; misalnya, gangguan suara (yaitu, suatu kelainan dari nada vokal, kenyaringan, kualitas, nada, atau resonansi).
           Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam DSM IV kesulitan atau ganguan bahasa dikelompokkan dalam lima ganguan yakni, gangguan bahasa ekspresif, gangguan bahasa reseptif-ekspresif campuran, gangguan bahasa fenologis, gagap dan gangguan komunikasi tidak dispesifikaikan sebelumnya. 

III.3. Tahap-Tahap Perkembangan Komunikasi (Kemampuan Bahasa)
          Papalia, dkk. (dalam Jamaris 2014) menguraikan perkembangan kemampuan bahasa lisan anak sejak usia 0 sampai usia 6 ahun berikut.
a.         Perkembangan bahasa lisan usia 0-1 tahun. Kemampuan bahasa lisan anak diungkapkan melalui berbagai percobaan yang dilakukannya dalam bermain dengan suara. Kegiatan percobaan yang dilakukan anak pada waktu ini, seperti mengeluarkan suara emmemm (meraban) yang merupakan ekspresi rasa senang. Bentuk lain dari eksperimen suara adalah menangis yang menunjukkan perasaan tidak senang. Pada tahap selanjutnya anak sudah dapat mengkombinasikan suara vokal dan suara konsonan, seperti aaaaa, emmm….emm, maaaa, maaa, paaa, paaaa. Suara yang dikeluarkan anak seperti kata yang mengandung makna, walaupun ia tidak mengetahui maksud dari suara yang dikeluarkannya. Pada usia 8-12 bulan, kemampuan berbahasa lisan anak meningkat dengan cepat, anak sudah mengerti arti berbagai kosa kata, walaupun ia belum dapat mengungkapkan secara lisan. Pada masa ini, anak sudah dapat mengucapkan kosakata yang mudah yang sering didengarnya, seperti susu, mama, papa, dada…, tidak, mau dan lain-lain. Pada tahap selanjutnya, anak menggunakan satu kata dengan banyak makna, seperti: susu yang berarti “saya mau susu’’, mau yang berarti “saya minta makan, “minta minum, “minta susu’’, dan lain-lain.
b.           Perkembangan bahasa lisan usia 1-2 tahun. Pada masa ini, perkembangan bahasa lisan anak sangat pesat. Sejalan dengan kemampuannya dalam mengeluarkan bunyi dari kosa kata yang dilanjutkan dengan merangkai bunyi menjadi kata dan menggunakan kata tersebut dalam berbagai konteks. Pada fase ini orang tua pada umumnya bersemangat untuk mengajak anak berbicara dan memberikan kata yang diperlukan anak dalam berbicara. Pada tahap selanjutnya, anak mengembangkan kemampuan lisannya dengan mengungkapkan kalimat pendek, seperti makan nasi atau minum susu, atau ayah pulang, walaupun anak belum mengerti fungsi dari bahasa lisan tersebut.
c.         Perkembangan bahasa lisan usia 2-3 tahun. Bahasa lisan anak usia 2-3 tahun berkembang sangat pesat. Pada usia ini, anak telah menguasai dan mengerti  300-1000 kosa kata, belum dapat menggunakannya dalam percakapan. Sejalan dengan perkembangan kosa kata yang pesat tersebut, anak senang bermain kosa kata dengan mengucapkan berulang-ulang kosa kata yang baru diketahuinya dan mulai merangkai kalimat yang belum mengandung makna.  Kesenangan anak dalam bermain kosa kata terletak pada ketertarikan mereka pada intonasi dan pola kosa kata, misalnya: anjing, guk..guk; kucing, ngeong..ngeong..; mobil, ummmm…uuummmmm…….
d.          Perkembangan bahasa lisan usia 3-4 ahun. Pada usia 3-4 tahun, kemampuan bahasa lisan anak sudah menyamai kemampuan bahasa orang dewasa. Keingintahuan anak tentang berbagai hal menyebabkan anak di usia ini aktif mengajukan berbagai pertanyaan, seperti “Apa ini?”, “Mengapa begini”, “Dari mana datangnya ini?”, “Bagaimana ini terjadi?”. Pada usia 3-4 tahun anak telah memiliki kosa kata sangat luas yang meliputi konsep warna, bentuk, ukuran, kecantikan, peristiwa, perasaan, bau, rasa, tekstur (kasar-halus), waktu, jarak, perbandingan suhu, dan kecepatan. Di samping itu, anak telah mampu mengintegrasikan berbagai kosa kata dengan baik, seperti,”Kotak yang besar berwarna merah” (Jamaris dalam Jamaris 2014). Kemampuan anak di bidang bahasa tidak hanya meliputi penguasaan kosa kata yang luas, tetapi anak telah menguasai hampir semua elemen bahasa dan aturan-aturan yang berlaku dalam bahasa, seperti sintaks, fonem, semantik, dan pemilihan kosa kata yang sesuai (Morrow dalam Jamaris 2014). Dengan kata lain, anak berusaha untuk mengekspresikan tindakannya dan mengungkapkan dalam bentuk kegiatan berbicara pada diri sendiri (Seefeldt & Barbaur dalam Jamaris 2014).
e.         Perkembangan kemampuan bahasa usia 4-5 tahun. Pada usia 4-5 tahun, anak berbicara hampir sama dengan orang dewasa. Pada masa ini, anak telah menguasai 2.500 kosa kata dan menggunakannya secara aktif dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Anak sudah memahami bahwa dengan bahasa, bukan hanya sekedar bahasa, tetapi mengandung makna yang sangat luas dengan menggunakan bahasa ini ia akan dapat menyatakan keinginannya, penolakannya, kekagumannya, membuka kesempatan untuk berteman, belajar, dan lain-lain. Dengan demikian, kemampuan bahasa yang digunakan untuk berimajinasi pada usia 3-4 tahun bergerak pada hal-hal yang nyata dan memecahkan masalah.
f.             Perkembangan kemampuan bahasa usia 7-8 tahun. Pada usia 7-8 tahun, kemampuan bahasa anak, khususnya yang berkaitan dengan penerapan aturan tata bahasa sudah sejajar dengan kemampuan orang dewasa. Pada usia ini, anak telah mampu berkomunikasi dengan baik, dan mampu mengungkapkan apa yang mereka lakukan, keberhasilan yang mungkin mereka capai, serta kendala-kendala yang mungkin mereka temui.
        Perkembangan bahasa pada masa remaja meliputi peningkatan penguasaan dalam penggunaan kata-kata yang kompleks (Fischer & Lazerson, dalam Santrock 2007). Menurut Santrock (2007) mengatakan bahwa remaja juga mengembangkan kemampuan yang lebih tajam terkait kata-kata. Mereka membuat kemajuan dalam memahami metafora, yakni perbandingan makna antara dua hal yang berbeda. Selain itu, para remaja menjadi lebih mampu memahami dan menggunakan satire yakni, penggunaan ironi, cemoohan, atau lelucon untuk mengekspos kebodohan atau kekejian.
            Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa perkembangan bahasa anak mulai berkembang dari tahap 0-8 tahun dimana setiap perkembangannya mengalami penambahan kosa kata dan kemampuan dalam pemaknaan, pada usia remaja perkembangan bahasa anak mengalami peningkatan penguasaan dalam penggunaan kata-kata yang kompleks, remaja mampu mengembangkan perbandingan makna antara dua hal yang berbeda dan mampu memahami penggunaan kata ironi, cemoohan, atau lelucon untuk mengekspos kebodohan atau kekejian.

BAB IV
IV. Apa saja Penyebab-Penyebab dari Kesulitan Komunikasi (Bahasa)?
Lovitt, dkk. (dalam Jamaris, 2014) mengemukakan bahwa anak yang mengalami kesulitan bahasa disebabkan oleh berbagai faktor, yakni:
 1. Perkembangan bahasa terlambat. Perkembangan bahasa yang terlambat berkaitan dengan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan perkembangan secara normal. Keterlambatan dalam perkembangan bahasa menyebabkan anak mengalami hambatan dalam memahami percakapan yang terjadi diantara anak-anak seusianya, selanjutnya menjadi penghalang bagi anak tersebut dalam mengespresikan kemauan dan penolakannya. Dengan demikian, kesulitan bahasa yang dialami anak menyebabkan anak sulit berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Menurut Amarican Speech-Language Hearing Disorder Asociaion (ASLHA) yang dikutip oleh Lovitt (dalam Jamaris 2014), kesulitan bahasa menampilkan diri dalam berbagai bentuk masalah bahasa seperti berikut ini.
 a.Masalah artikulasi yang dapat dIIIdentifikasi dari penggantian dan penghilangan suara pada waktu berbicara.
 b.Masalah kelainan suara, seperti intonasi yang tinggi berbicara dengan suara keras, hypernasality.
 c.Masalah kelancaran dalam berbicara, yang terlihat dari berbicara dengan gagap dan mengulang-ulang kata yang telah diucapkan.
  Papalia dan  Olds (dalam Jamaris 2014) menjelaskan bahwa anak yang berusia tiga-empat-lima tahun telah mengerti sediktnya 2.500 kosa kata yang terdiri  atas warna, ukuran, bentuk, warna dan bentuk, bau, rasa dan warna, kecantikan, kecepatan, suhu, perbedaan, perbandingan jarak, permukaan (halus dan kasar), dan lain-lain. Hal ini diperkuat oleh Taylor yang menyatakan bahwa anak usia 2-5 tahun telah menguasai 200-20.000 kosa kata (www.taylor.com dalam Jamaris 2014).
 2.Masalah fonologi. Anak yang mengalami masalah fonologi mengeluarkan suara yang tidak enak didengar, seperti melengking, terlalu rendah, monoton, atau seperti berbisik. Bentuk lain dari masalah fonologi adalah hypernasality, yaitu suatu keadaan yang berkaitan dengan pengeluaran udara yang terlalu banyak dari hidung pada waktu berbicara, sehingga sukar dibedakan apakah anak menyebutkan huruf  n atau m. Jakobson dan Halle sejak tahun 1956  (yang dikutip oleh Marrow dalam Jamaris, 2014) melakukan penelitian perkembangan fonologi. Menurut para peneliti itu, ada tiga hal yang mempengaruhi perkembangan kemampuan fonologi.
 a.Anak belajar membedakan suara dikeluarkan melalui Oral-nasal (p, m) labial-dental (p, t) dan stop fricative (p dan f).
 b.Perkembangan konsonan depan, seperti p dan m merupakan awal dari kemampuan anak  untuk mengeluarkan suara k dan g.
 c.Fonem selalu ada dalam setiap bahasa.
Pemerolehan fenologi berkembang sampai usia 7,5 tahun (Menyuk dalam Jamaris, 2014). Masalah fonologi yang dialami anak terlihat dari kelainan artikulasi dengan menghilangkan bunyi konsonan, seperti bunyi Y yang diganti dengan bunyi O dan pengeluaran udara yang terlalu banyak dari hidung sehingga mengeluarkan bunyi S yang panjang. Kesalahan dalam fonologi juga diperlihatkan anak pada waktu menyuarakan konsonan dengan bunyi yang berbeda, seperti :
 a.    b dibunyikan p;
 b.    t dibunyikan d;
 c.    fr dibunyikan pr; dan
 d.   fl dibunyikan pl.
 3. Masalah morfologi. Morfologi berasal dari kata morpheme, yaitu bagian terkecil dari unit bahasa yang mengandung arti. Anak yang mengalami masalah morfologi mengalami kesulitan dalam memahami aturan-aturan dalam penggunaan bahasa, seperti penggunaan awalan dan akhiran, penggunaan kata kerja, kata sifat, kata benda. Kesulitan dalam bidang morfologi menjadi penyebab kesulitan belajar bahasa dan membaca.
 4.Masalah sintaks. Sintaks berkaitan dengan aturan dalam menggunakan bahasa. Dengan kata lain, disebut dengan tata bahasa. Kesadaran akan adanya aturan dalam berbahasa telah muncul sejak anak berusia 12 sampai 24 bulan. Hal dapat dilihat dari kemampuan anak dalam mengungkapkan kalimat secara verbal yang terdiri atas dua kata yang berfungsi sebagai subjek dan predikat. Misalnya, “Ani makan”. Kesadaran anak akan adanya aturan dalam berbahasa dalam fase awal disebut semantic grammar. Secara perlahan, kemampuan anak bergerak menjadi kemampuan dalam pemahaman sintaks. Kemampuan ini dapat dilihat dalam kalimat-kalimat yang dikeluarkan anak dalam berkomunikasi, dari kalimat sederhana menjadi kalimat yang komplek yang terdiri atas subjek, predikat dan objek serta menggunakan berbagai kata sifat yang benar. Kesulitan anak dalam sintak menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi dan melakukan ekspresi tertulis.
 5.Masalah semantik. Semantik berkaitan dengan arti kata yang membutuhkan pemahaman terhadap kosa kata secara luas dan hubungan-hubungan yang terjalin di antara kosa kata dan persamaan kata. Pemahaman terhadap hal tersebut mempermudah proses berfikir dan proses komunikasi. Sebagai contoh, pemahaman individu terhadap arti kata: pupuk, bibit, panen dan hubungan di antara kosa kata tersbut mempermudah proses berfikir dalam mengembangkan kemampuan komunikasi, baik secara lisan maupun secara tertulis. Berdasarkan uraian tersebut, masalah semantik yang dialami anak menyebabkan kesulitan anak dalam melakukan aktivitas belajar. Hal ini di sebabkan belajar merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dengan pemahaman terhadap arti kata yang terkait dengan materi yang dipelajari. Perkembangan semantik sangat nyata dalam usia tiga tahun. Hal ini tampak dari perilaku anak yang selalu bertanya tentang berbagai objek yang dilihat dan didengarnya. Pada masa ini, anak disebut dengan istilah “haus bahasa”. Pelayanan yang efektif yang diberikan pada anak yang berada dalam tahap haus bahasa membantu pemerolehan bahsa anak secara optimal. Perkembangan semantik, menurut Wood (dalam Jamaris 2014), seperti yang dikemukakan oleh Mercer (dalam Jamaris 2014), dapat dibagi ke dalam tiga tahap berikut:
 a.Tahap pertama dimulai sejak anak mengembangkan pemahamannya terhadap kata pertama yang diperolehnya. Wood menamakan hal ini dengan nama kalimat kata pertama. Misalnya, kata kucing mewakili ungkapan kucing makan, kucing berlari, kucing bermain.
 b.Tahap kedua dimulai pada usia 2 tahun. Anak telah mampu memahami arti kata dan hubungannya dengan aktivitas yang mewakili kata tesebut. Misalnya: Kucing berlari, kucing makan. Perkembangan tahap kedua ini berlangsung sampai usia 6-7 tahun. Pada usia ini, anak sudah mampu mendefinisikan tentang objek yang ada di sekitarnya, misalnya:  ikan adalah binatang yang berenang yang hidup di sungai dan di laut.
 c.Tahap ketiga mulai 8-12 tahun. Pemahaman anak di bidang semantik berkaitan dengan pengalaman-pengalaman yang dialaminya. Pada masa ini, anak telah mampu menganalisis karakteristik objek secara lebih rinci. Misalnya: kuda adalah binatang berkaki empat yang dapat ditunggangi dan pemakan rumput. Kuda dapat dimasukkan ke dalam kelompok benda hidup. Pada usia 12 tahun, anak sudah dapat dikatakan kamus berjalan karena telah menguasai arti dan makna kata dalam jumlah yang sangat banyak.
Anak yang mengalami kesulitan bahasa, khususnya di bidang  semantik menggunakan kosa kata yang sangat terbatas. Keterbatasan semantik tersebut dapat mencakup berbagai spesifik area, seperti kata sifat, kata kerja, kata benda,  awal dan akhiran, serta pengucapan kata.
 6.Masalah pragmatik. Bruner (dalam Jamaris 2014) mengemukakan bahwa pragmatik di dalam bahasa menyangkut fungsi bahasa yang diucapkan oleh pengucapnya dan pengaruhnya pada orang yang mendengar ucapan tersebut. Misalnya, “Berikan boneka itu pada saya,” ucapan ini mengandung perintah yang membuat orang yang mendengar ucapan tersebut atau orang yang diperintahkan memberikan boneka kepada yang bersangkutan. Kemampuan anak dalam bidang pragmatik sudah berkembang 18 bulan. Pada usia 3 tahun, anak sudah memahami pertanyaan yang mengandung perintah yang dinyatakan secara tidak langsung. Seperti, “Siapa yang mau menutup pintu itu?”. Pada usia 4-5, anak-anak sudah memahami penggunaan kata yang tepat pada waktu ia meminta dan memahami fungsi pengucapan kata secara sopan dan pengaruhnya pada kelancarannya dalam berkomunikasi  untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Ketidakpahaman anak terhadap fungsi bahasa menyebabkan berbagai kesulitan dalam berkomunikasi dan melakukan kegiatan belajar.
                   Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa penyebab-penyebab kesulitan komunikasi (bahasa) yakni, perkembangan bahasa yang terlambat dan masalah-masalah yang berkaitan dengan bahasa, seperti masalah fonologi, masalah morfologi, masalah sintaks, masalah semantik, dan masalah pragmatik.

Selanjutnya, Bagaimana Dampak dan Penanggulangan Kesulitan Komunikasi bagi Remaja?. Akan kita sambung lagi di Naskah selanjutnya ya...Semoga Bermanfaat.


Tugas 4 :  Kelas KMO www.kmoindonesia.com
Pemateri : Ernawatililys www.ernawatililyis.com

Medan, 06 Juni 2016

Best Regards,
Nony Darmawati Sukmaretny P
--------------------------------------------------------------
#KMO6A_10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar